Total Pageviews

Translate

Wednesday, November 26, 2014

"BUNGKUS-nya atau ISI-nya "

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila kita hanya menguras pikiran untuk mengurus BUNGKUS-nya saja dan mengabaikan ISI-nya.
Bedakanlah apa itu "BUNGKUS" nya dan apa itu "ISI" nya.
"Rumah yang indah" hanya bungkus nya; "Keluarga Bahagia" itu isi nya.
"Pesta pernikahan" hanya bungkus nya;
"Cinta kasih, Pengertian, dan Tanggung jawab" itu isi nya.
"Ranjang mewah" hanya bungkus nya;
"Tidur nyenyak" itu isi nya.
"Kekayaan" itu hanya bungkus nya;
"Hati yang gembira" itu isi nya.
"Makan enak" hanya bungkus nya;
"Gizi, energi, dan sehat" itu isi nya.
"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkus nya; "Kepribadian dan Hati" itu isi nya.
"Bicara" itu hanya bungkus nya;
"Kenyataan" itu isi nya.
"Buku" hanya bungkus nya;
"Pengetahuan" itu isi nya.
"Jabatan" hanya bungkus nya;
"Pengabdian dan pelayanan" itu isi nya.
"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkus nya; "Melakukan Ajaran Agama" itu isi nya.
"Kharisma" hanya bungkus nya;
"Karakter" itu isi nya.
Mari belajar untuk lebih meng-UTAMA-kan isinya, namun jangan lupa kita rawat juga bungkusnya yaaa...

GENDONG AKU SAMPAI AJALKU TIBA

Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.
Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang, “Mengapa?” Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku. Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi. Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.
Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian. Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.
Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan,” kata Jane.
Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. “Wow, papa sedang menggendong mama.” Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.
Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.
Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, “Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang.” Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata,” Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama.” Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.
Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.
Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, “Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain.”
Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane. Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. “Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku.”
Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, “Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami.”
Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.
Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.
Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.
——————
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya.
Jika engkau tidak ingin berbagi/share cerita ini, pasti tidak akan terjadi sesuatu padamu di hari-hari hidupmu.
Akan tetapi, jika engkau mau berbagi/share cerita ini kepada saudara, sahabat atau kenalanmu. Maka ada kemungkinan, engkau dapat menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama mereka yang sedang mengalami masalah dalam pernikahan mereka. Semoga demikianlah adanya.


✪ ANJING YANG PINTAR ✪

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya,” tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada
di mulut anjing ini.”

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar disana. Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik dimulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.
Anjing tersebut kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat “papan informasi jam perjalanan”.
Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat “papan informasi jam perjalanan” dan kemudian duduk di salah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lg si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bhw bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.
Bus berjalan meninggalkan kota, menuju ke pinggiran kota. Si anjing melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan dua kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga.
Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tersebut. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik dan menunggu di pintu.
Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.
Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut,” Apa yang kau lakukan ..??!! Anjing ini adalah anjing yang jenius. Ia dapat masuk televisi untuk kejeniusannya.”
Pria itu menjawab,” Kau katakan anjing ini pintar??? Dalam minggu ini sdh dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!!!”
Inspirasi Cerita :
Cerita ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Banyak orang yang tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka dapat. Seringkali kita tidak menghargai bawahan kita yang telah bekerja dengan setia selama bertahun-tahun. Seringkali kita juga tidak menghargai atasan kita yang dipakai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita selalu menonjolkan kesalahan dan kelemahan tanpa melihat kelebihan dan jasa orang lain.

Thursday, October 23, 2014

Diwaktu Muda

Anak muda yang akan sukses besar, memang sering galau tapi jarang menyerah.
Dia sering menangis tanpa alasan dan tertawa geli tanpa sebab.
He he ... memang terkadang orang tertukar antara dia dan pasien yang melarikan diri sebelum pengobatannya selesai, tapi seperti itulah ciri-ciri anak muda yang akan menjadi pribadi hebat di masa depan.
Dia mungkin miskin hari ini dan ditolak bahkan oleh wanita yang tidak cantik, tapi dia akan sukses dan dikejar-kejar wanita cantik dan gemulai dari kalangan dusun sampai kompleks gedongan.
Tapi dia akan mendewasa, dan tidak mudah silau oleh kecantikan bedak dan sasakan rambut produksi salon.
Dia mencari wanita yang indah hatinya, yang manja lebay tapi galak dalam membelanya, yang hati dan matanya dijaga hanya untuknya, yang memelihara kecantikannya yang sederhana itu sampai jauh ke masa tua, yang melahirkan anak-anaknya yang sehat, cedas dan lucu; yang akan membantu suaminya menjadi pribadi yang sukses dan berpengaruh, yang akan menjadi sahabat bagi kebahagiaan satu sama lain dalam umur yang panjang dan sehat.
Memang tidak mudah menjadi anak muda, karena kegagalannya adalah kegagalan masa depannya; dan semuda itu dia harus berhasil agar masa depannya mapan dan berwibawa.
Jiwa-jiwa muda adalah kekasih-kekasih Tuhan yang sedang dalam pembentukan.
Adik-adikku yang baik hatinya,
Bersabarlah. Sudah banyak petunjuk baik dari Tuhan, dari orang tuamu, dari para guru dan penasihat.
Patuhilah yang baik, dan hidupmu akan baik.
Aamiin
I love you all guys!

Tuesday, August 05, 2014

PERANTAU DI DUNIA

Ada seorang pengembara tiba di sebuah negeri di Timur Tengah.
Orang ini mendengar ada seorang bijaksana di negeri itu, & ingin menemuinya.
Pria bijaksana itu di kenal saleh dan baik hati, sehingga sangat dikasihi banyak orang. Untuk itu tidak sulit menemukan pria bijaksana itu.
Ketika pengembara itu bertanya dimana rumahnya, setiap orang yg di temuinya langsung menunjuk ke arah... ujung perkampungan dimana berdiri sebuah gubuk reyot. Ketika ia mengetuk pintu gubuk itu, muncul seorang pria tua yang mempersilahkan ia masuk.
Pengembara itu sangat terkejut mendapati bahwa pria bijaksana itu tinggal di gubuk reyot yag isi rumahnya hanya sebuah meja, sebuah kursi, satu kompor dan alat memasak saja.
Karena merasa tidak nyaman, pengembara itu bertanya, “Dimana perabot rumah Anda?” Orangtua tadi balik bertanya dgn lembut, “Mana milik Anda?” “Tentu saja di rumah saya. Kan saya sedang merantau, tidak mungkin saya membawa perabotanku.”
“Saya juga, Saya kan sedang merantau di dunia ini.”
Saudaraku... Apakah Anda sadar bahwa anda sebenarnya perantau di dunia ini? Rumah anda adalah di sorga, di mana YESUS KRISTUS sedang menyiapkannya bagimu. Namun banyak orang saat ini melupakan bahwa diri mereka adalah perantau sehingga yang mereka menyibukkan diri mengumpulkan harta di dunia ini.
Padahal pada akhirnya smua harta dunia itu tidak dapat mereka bawa ketika tiba saat untuk pulang ke rumah Bapa di Sorga.
"Saudara-saudaraku yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa." (1 Petrus 2:11)
Jangan Lupakan Bahwa Anda Adalah Perantau di Dunia. Gunakanlah Harta Duniawi Ini Untuk Menghasilkan Kekayaan Sorgawi !!

✪ SERAHKANLAH KEPADA TUHAN ✪
"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7)
Sahabatku yang terkasih di dalam Keluarga Kasih Kristus, ada sebuah kisah tentang enam orang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan besar. Ke enam orang ini merupakan ujung tombak terbaik dalam departemennya dan pernah mendapatkan predikat "The Best Employee" (Karyawan Terbaik) dalam perusahaan tempat mereka bekerja saat ini.
Suatu kali perusahaan mengeluarkan kebijakan baru dalam jajaran managemennya untuk melakukan pengurangan pegawai didalam setiap departemen, dikarenakan sedang pailit. Ke enam orang karyawan inipun di panggil oleh sang pimpinan, dan hasil dari pertemuan tersebut menghasilkan bahwa salah satu dari mereka harus rela berhenti bekerja karena perusahaan hanya membutuhkan lima orang profesional muda dalam departemen tersebut. Alhasil salah seorang dari mereka yang masih mempunyai anak yang kecil-kecil terpilih untuk kena PHK dan diberi waktu satu bulan untuk mempersiapkan semuanya. Rasa haru dan sedih pun melingkupi mereka seketika itu. Bagaimana mereka sudah bekerja bersama-sama selama bertahun-tahun dalam sebuah team, namun salah satu dari mereka harus berpisah.
Di saat mereka kembali ke ruang kerjanya masing-masing, seorang yang akan terkena PHK ini nampak sangat sedih sekali. Ia banyak bercerita bagaimana ia nanti menghidupi keluarganya terlebih anaknya yang masih kecil-kecil. Air mata pun berulangkali menetes dari pelupuk matanya. Bapak muda ini belum dapat menerima kenyataan pahit yang harus terjadi kepadanya. Namun Tuhan sangatlah baik dan teramat baik kepadanya, singkat cerita seorang rekan kerjanya (salah satu dari ke enam profesional muda) yang lolos dari PHK tersebut dan hanya satu-satunya seorang yang kristen Pengikut Tuhan Yesus, serta belum berkeluarga, mendatanginya, dan berkata : " Bapak tidak usah kuatir ya, biarkan nanti saya yang menghadap bapak direktur. Izinkanlah saya saja yang menggantikan bapak dan biarlah bapak tetap dapat bekerja untuk menghidupi keluarga dan anak-anak bapak. Bagaimanapun juga segenap keluarga bapak sangat mengharapkan penghasilan dari pekerjaan bapak ini ". Dan nampaklah seketika itu juga wajah dukacita dari bapak muda tersebut terganti dengan wajah sukacita. Air mata dari bapak tersebut sudah tidak terlihat lagi. Bahkan dengan perasaan gembiranya ia memeluk rekan kerjanya yang rindu berkorban baginya, sambil menjawab : " Terimakasih ya mas. Lantas kamu nanti bagaimana..?? Kamu akan kerja dimana..?? ". Sambil menepuk pundak bapak muda tersebut, pemuda inipun kembali berkata : " Bapak tidak usah terlalu memikirkan saya, saya tulus dan ihklas, lagian saya masih muda, dan saya belumlah berkeluarga. Saya masih dapat mencari pekerjaan yang lain. Yang pasti bapak tetap dapat menghidupi keluarga bapak, saya sudah sangat bersukacita ". Seketika itu juga bapak tersebut memeluk rekan kerjanya yang rindu berkorban untuknya, sambil mengucapkan terimakasih kepadanya.
"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35)
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya." (Markus 9:41)
Sahabatku, mari kita renungkan sejenak apa yang telah diperbuat sang pemuda dalam kisah diatas, bagaimana ia berkorban untuk rekan kerjanya yang lebih membutuhkan dalam hal pekerjaan. Bukankah seharusnya jikalau si pemuda tersebut egois, ia tidak akan memberikan pekerjaan kepada bapak rekan kerjanya tersebut..?? Bukankah si pemuda itu juga membutuhkan pekerjaan itu..?? Apakah pemuda tersebut tidaklah berhikmat..?? Sama sekali tidak, bahkan si pemuda itu telah memberikan contoh dan teladan akan Kasih Tuhan, sebagai satu-satunya pengikut Kristus, kepada kelima rekan kerja dalam departemennya. Pemuda tersebut sangatlah berhikmat dan menaruh Iman Percaya Penuh kepada Tuhan. Pemuda tersebut mengetahui bahwa bapak muda rekan kerjanya tersebut lebih membutuhkan pekerjaan itu untuk menghidupi keluarganya dan anak-anaknya yang masih kecil. Pemuda itu berserah penuh kepada Bapa di Sorga, bahwa Tuhan nanti pasti akan menggantinya dengan sebuah pekerjaan yang lebih baik lagi dan ia tidak akan pernah kehilangan upah-NYA. Pemuda tersebut telah menyerahkan segala kekuatirannya kepada Tuhan, bahwa DIA sanggup memelihara kehidupannya.
Bagaimana dengan saudara dan saudari hari ini..?? Apakah masih ada rasa kekuatiran dalam kehidupan saudara akan apa yang hendak dipakai, akan apa yang hendak dimakan..?? Apakah masih ada kekuatiran dalam hidup saudari saat ini untuk berbuat baik, menolong dan berbagi kasih kepada sesama..?? Janganlah kehilangan semangat untuk menjalani hidup, hanya karena kita kehilangan sesuatu hal yang berharga dalam kehidupan. Percaya dan serahkanlah semuanya tanpa terkecuali kepada Tuhan dengan kesungguhan hati dan dengan segenap hati, maka DIA akan menggantinya dengan berlipat kali ganda dalam kehidupan kita. Amin.
"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23)
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6)
SERAHKANLAH segala kuatir kita kepada Tuhan, maka kita akan senantiasa dimampukan untuk BERBAGI KASIH kepada sesama, dalam keadaan suka maupun duka.

Hidup itu di ibaratkan sebuah "KAPAL"
Landasan kapal di ibaratkan "KEPERCAYAAN"
Dayung kiri adalah "KEJUJURAN"
Dayung kanan adalah "KERJA KERAS"
Agama adalah "KOMPAS"
Layar adalah "KEKUATAN"
Tuhan adalah "PELITA"
Ombak dan Angin adalah "MASALAH"
Ikan adalah "HARTA & CINTA"   
Saat kita sedang berlayar mencari ikan...
Kita tidak dapat menghindari ombak dan angin yang keras....
Kita hanya dapat bertahan dan berjuang untuk tidak tenggelam....
Saat ombak menghantam kita.....
Gunakan layar kita, gunakan kompas untuk mengetahui di mana posisi kita....
 
Jangan biarkan landasan kapal kita bocor....
Dayung sekuat tenaga...
dan jangan lupa sebuah Pelita dapat menyelamatkan Hidup kita...
Tanpa sebuah pelita kapal kita akan Gelap dan kau tidak akan dapat melihat daratan.


GOD Bless you all forever and ever...

TIGA HARI DALAM HIDUP

Hari pertama : Hari Kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang,
lepaskan saja…

Hari kedua : Hari Esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba, dan belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…
Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup.
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan hari esok.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri.
Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga.
GOD Bless you all forever and ever...

◆ JANGANLAH MENJADI GELAS ◆

Seorang guru menghampiri muridnya ketika jam pelajaran selesai. Ada salah seorang murid yang belakangan ini wajah nya selalu murung.
"Kenapa kau selalu murung nak,,? bukankah banyak hal yang indah didunia ini..? Kemana perginya wajah bersyukur mu.." sang guru bertanya.
"Pak dan.. belakangan ini hidupku penuh dengan masalah.. sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habisnya... " Jawabnya.
Sang guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan 2 genggam garam. Bawalah kemari biar ku perbaiki suasana hatimu.." Simurid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan 2 genggam garam di tangannya.
"Coba ambil segenggam garam dan masukan ke segelas air itu.." Kata sang guru.
"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Simurid pun melakukannya. Wajahnya pun kini meringis karena meminum air asin.
"Bagai mana rasanya.?" Tanya sang guru. "Asin, dan perutku jadi mual," Jawab simurid dengan wajah yang masih meringis. Sang guru terkekeh - kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. "Sekarang kau ikut aku.." Sang guru membawa muridnya ke danau didekat tempat mereka.
"Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah dihadapan guru, begitu pikirnya.
"Sekarang kamu coba minum air danau itu.." Kata sang guru sambil menyari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat dipinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau dan membawanya kemulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir ditenggorokannya, sang guru bertanya kepadanya. "Bagai mana rasanya..?"
"Segar, segar sekali.." Kata si murid sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air diatas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah. Dan sudah pasti air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa dimulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi..?" "tidak sama sekali" Kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak,," Kata sang guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kamu alami sepanjang kehidupanmu itu, sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu.
Jumlah tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir kedunia pun demikian. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi nak, 'rasa asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
Kesimpulannya.. janganlah berpikiran sempit, karena kita punya 2 mata juga otak untuk berpandangan luas. Pandanglah kedepan seluas-luasnya dan tetaplah berharap pada pertolongan Tuhan Yesus. Maka, masalah yang anda hadapi akan terasa lebih mudah. (walaupun butuh pengorbanan).
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28)
Sekali lagi,, janganlah menjadi Gelas...

GOD Bless you all forever and ever...