Total Pageviews

Translate

Wednesday, November 26, 2014

Sebuah kisah untuk direnungkan… (◦ˆ◡ˆ◦) Sebuah cerita dari Anas 黄永胜 yg layak untuk kita baca dan renungkan… ┓(◦ˇーˇ◦)┏

4 bulan yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yg kukasihi…
Sering aku bertanya², bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik² sajakah? ƪ(▔ ̯▔)ʃ 
Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan seorang suami yg tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yg masih begitu kecil…
Begitulah yg kurasakan, karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, ga bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku… ( ˘͡ ―˘͡)
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja…
Aku harus segera berangkat ke kantor…
Anakku masih tertidur…
Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya… (─‿─)
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan…
Setelah memberitahu anakku yg masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja…
Peran ganda yg kujalani, membuat energiku benar² terkuras…
Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari…
Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku…
Aku langsung masuk ke kamar tidur dan melewatkan makan malam…
Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dgn maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan… ƪ(´~`)ʃ
Tiba² aku merasa ada sesuatu yg pecah dan tumpah seperti cairan hangat!
Aku membuka selimut dan di sanalah sumber 'masalah'nya…
Sebuah mangkuk yg pecah dgn mie instan yg berantakan di seprai dan selimut!
Oh…Tuhan! (⋋ ̯⋌)
Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yg sedang gembira bermain dgn mainannya dgn pukulan²! (`д⊂彡☆))Д゚)
Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat…
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi… Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan… Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar… Maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie… Satu untuk ayah dan yang satu lagi untukku… Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang… Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dgn mainanku… Aku minta maaf Dad…"
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku… (ㄒ﹏ㄒ)
Tetapi, aku ga ingin anakku melihat ayahnya menangis…
Maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dgn menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku… (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)
Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, memeluknya dgn erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur…
Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie ditempat tidur…
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam…
Aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yg dikasihinya… (>_<。)
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dgn memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya…
Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari TK…
Untungnya insiden yg terjadi ga meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dgn bahagia… (◦'ں'◦)
Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi…
Aku benar² menyesal… (´⌒`)
Guru TKnya memanggilku dan memberitahukan bahwa anakku absen dari sekolah…
Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan…
Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil² namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis sedang bermain komputer game dgn gembira…
Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan²…
Dia diam aja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad…"
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yg diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dgn ibunya…
Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…
Beberapa hari setelah penghukuman dgn pukulan rotan…
Anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis…
Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yg aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat aku bangga juga!
Waktu berlalu dgn begitu cepat…
1 tahun telah lewat. Saat ini musim dingin dan hari Natal telah tiba…
Semangat Natal ada dimana² juga di hati setiap orang yg lalu lalang…
Lagu² natal terdengar diseluruh pelosok jalan…
Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi!
Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari² terakhir kerja…
Tiba² kantor pos menelpon…
Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sdng sibuk²nya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus…
Mereka menelpon saya dgn marah², untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat…
Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi…
Karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar² keterlaluan…
Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf: "Maaf, Dad""... (ಠ_ಠ)
Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu…
Setelah itu aku pergi ke kantor pos untuk mengambil surat² tanpa alamat tersebut lalu pulang…
Sesampai di rumah, dgn marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?
Apa yg ada dikepalanya? (˘̶ِ̀ ˘̶́')
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah "Surat² itu untuk mommy…".
Tiba² mataku berkaca²…
Tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya, "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat² pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yg lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat²ku… Tapi baru² ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus…"
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata²… (॓ ̯॔) 
Aku bingung ga tahu apa yg harus aku lakukan dan apa yg harus aku katakan…
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dgn membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy…"
Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dgn nyenyak…
Aku berjanji akan membakar surat² atas namanya, jadi aku membawa surat² tersebut ke luar…
Tapi aku jadi penasaran untuk membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu…
Dan salah satu dari isi surat²nya membuat hatiku hancur… ( ˘̶̀• ̯•˘̶́ )
Mommy sayang…
Aku sangat merindukanmu!
Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut…
Tapi kamu tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga…
Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi…
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko…
Ayah keliling² mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yg sebenarnya…
Mommy, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu…
Setiap kali dia teringat padamu…
Dia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya…
Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu…
Terlalu berat untuk kita berdua, aku rasa…
Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu…
Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan mengingatmu?
Temanku bilang jika kau tertidur dengan photo orang yg kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu…
Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti…
Karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yg tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku…
Untuk para suami, yg telah dianugerahi seorang istri yg baik, yg penuh kasih terhadap anak²mu selalu berterima kasihlah setiap hari padanya…
Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak²mu… ƪ(◦ˇーˇ◦)¬
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dgn segala kekurangan dan kelebihannya…
Karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya… ┓(◦ˇεˇ◦)┏


"BUNGKUS-nya atau ISI-nya "

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila kita hanya menguras pikiran untuk mengurus BUNGKUS-nya saja dan mengabaikan ISI-nya.
Bedakanlah apa itu "BUNGKUS" nya dan apa itu "ISI" nya.
"Rumah yang indah" hanya bungkus nya; "Keluarga Bahagia" itu isi nya.
"Pesta pernikahan" hanya bungkus nya;
"Cinta kasih, Pengertian, dan Tanggung jawab" itu isi nya.
"Ranjang mewah" hanya bungkus nya;
"Tidur nyenyak" itu isi nya.
"Kekayaan" itu hanya bungkus nya;
"Hati yang gembira" itu isi nya.
"Makan enak" hanya bungkus nya;
"Gizi, energi, dan sehat" itu isi nya.
"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkus nya; "Kepribadian dan Hati" itu isi nya.
"Bicara" itu hanya bungkus nya;
"Kenyataan" itu isi nya.
"Buku" hanya bungkus nya;
"Pengetahuan" itu isi nya.
"Jabatan" hanya bungkus nya;
"Pengabdian dan pelayanan" itu isi nya.
"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkus nya; "Melakukan Ajaran Agama" itu isi nya.
"Kharisma" hanya bungkus nya;
"Karakter" itu isi nya.
Mari belajar untuk lebih meng-UTAMA-kan isinya, namun jangan lupa kita rawat juga bungkusnya yaaa...

GENDONG AKU SAMPAI AJALKU TIBA

Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku. Sambil memegang tangannya aku berkata, “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk di samping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku.
Aku ingin sebuah perceraian di antara kami, karena itu aku beranikan diriku. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik bertanya kepadaku dengan tenang, “Mengapa?” Aku menolak menjawabnya, ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin tahu alasan di balik keinginanku untuk bercerai.
Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai dan dia dapat memiliki rumah kami, mobil, dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah dan merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku itu telah menjadi orang yang asing di hatiku. Aku minta maaf kepadanya karena dia telah membuang waktunya 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energi yang diberikan kepadaku, tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane, wanita simpananku, bahwa aku sungguh mencintainya. Istriku menangis lagi. Bagiku tangisannya sekarang tidak berarti apa-apa lagi. Keinginanku untuk bercerai telah bulat.
Hari berikutnya, ketika aku kembali ke rumah sedikit larut, kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane. Ketika terbangun, kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya, dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku. Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum perceraian. Dia memintaku dalam sebulan itu, kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami istri. Alasannya sangat sederhana. Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami. Selain itu, dia juga meminta agar aku harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai muka depan pintu setiap pagi.
Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah demi perceraian yang kuinginkan, aku pun menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Aku menceritakan kepada Jane tentang hal itu. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah kita rencanakan,” kata Jane.
Ada rasa kaku saat menggendongnya untuk pertama kali, karena kami memang tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri belakangan ini. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan di belakang kami. “Wow, papa sedang menggendong mama.” Sambil memelukku dengan erat, istriku berkata, “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya, sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.
Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuhnya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan seksama untuk waktu yang agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda seperti dulu lagi, ada bintik-bintik kecil di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai beruban. Namun entah kenapa, hal itu membuatku mengingat bagaimana pernikahan kami dulu.
Pada hari keempat, ketika aku menggendongnya, aku mulai merasakan kedekatan. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tentu tidak mengatakan perasaan ini kepada Jane.
Suatu hari, aku memperhatikan dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Dia sedikit mengeluh, “Semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang.” Aku mulai menyadari bahwa dia semakin kurus dan itulah sebabnya kenapa aku dapat dengan mudah menggendongnya. Aku menyadari bahwa dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.
Tiba-tiba putra kami muncul dan berkata,” Papa, sekarang saatnya untuk menggendong dan membawa mama.” Bagi putraku, melihatku menggendong dan membawa mamanya menjadi peristiwa yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku dari peristiwa yang bisa mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai.
Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami istri yang harmonis. Aku pun memeluk erat tubuhnya, seperti momen hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu. Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih.
Pada hari terakhir, aku menggendongnya dengan kedua lenganku. Aku susah bergerak meski cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluknya erat sambil berkata, “Aku tidak pernah memperhatikan selama ini hidup pernikahan kita telah kehilangan keintiman satu dengan yang lain.”
Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku, mampir ke tempat Jane. Melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Begitu cepatnya karena aku takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku langsung berkata padanya. “Maaf Jane, aku tidak ingin menceraikan istriku.”
Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Aku mengelak dan berkata, “Maaf Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memaknai setiap momen kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari sejak aku menggendongnya sebagai syaratnya itu, aku ingin terus menggendongnya sampai hari kematian kami.”
Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah toko bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis, “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”
Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum menghias wajahku. Aku berlari hanya untuk bertemu dengan istriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami. Tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama 10 tahun pernikahan kami.
Aku baru tahu kalau istriku selama ini berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun begitu, dia ingin menyelamatkanku dari pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami karena aku menginginkan perceraian, karena reaksi kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun yang mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami.
Betapa berharganya sebuah pernikahan saat kita bisa melihat atau mengingat apa yang membuatnya berharga. Ingat ketika dulu perjuangan yang harus dilakukan, ingat tentang kejadian-kejadian yang telah terjadi di antara kalian, ingat juga tentang janji pernikahan yang telah dikatakan. Semuanya itu harusnya hanya berakhir saat maut memisahkan.
——————
Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.
Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya.
Jika engkau tidak ingin berbagi/share cerita ini, pasti tidak akan terjadi sesuatu padamu di hari-hari hidupmu.
Akan tetapi, jika engkau mau berbagi/share cerita ini kepada saudara, sahabat atau kenalanmu. Maka ada kemungkinan, engkau dapat menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama mereka yang sedang mengalami masalah dalam pernikahan mereka. Semoga demikianlah adanya.


✪ ANJING YANG PINTAR ✪

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya,” tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada
di mulut anjing ini.”

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar disana. Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik dimulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.
Anjing tersebut kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat “papan informasi jam perjalanan”.
Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat “papan informasi jam perjalanan” dan kemudian duduk di salah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lg si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bhw bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.
Bus berjalan meninggalkan kota, menuju ke pinggiran kota. Si anjing melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan dua kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga.
Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tersebut. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik dan menunggu di pintu.
Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.
Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut,” Apa yang kau lakukan ..??!! Anjing ini adalah anjing yang jenius. Ia dapat masuk televisi untuk kejeniusannya.”
Pria itu menjawab,” Kau katakan anjing ini pintar??? Dalam minggu ini sdh dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!!!”
Inspirasi Cerita :
Cerita ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Banyak orang yang tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka dapat. Seringkali kita tidak menghargai bawahan kita yang telah bekerja dengan setia selama bertahun-tahun. Seringkali kita juga tidak menghargai atasan kita yang dipakai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita selalu menonjolkan kesalahan dan kelemahan tanpa melihat kelebihan dan jasa orang lain.

Thursday, October 23, 2014

Diwaktu Muda

Anak muda yang akan sukses besar, memang sering galau tapi jarang menyerah.
Dia sering menangis tanpa alasan dan tertawa geli tanpa sebab.
He he ... memang terkadang orang tertukar antara dia dan pasien yang melarikan diri sebelum pengobatannya selesai, tapi seperti itulah ciri-ciri anak muda yang akan menjadi pribadi hebat di masa depan.
Dia mungkin miskin hari ini dan ditolak bahkan oleh wanita yang tidak cantik, tapi dia akan sukses dan dikejar-kejar wanita cantik dan gemulai dari kalangan dusun sampai kompleks gedongan.
Tapi dia akan mendewasa, dan tidak mudah silau oleh kecantikan bedak dan sasakan rambut produksi salon.
Dia mencari wanita yang indah hatinya, yang manja lebay tapi galak dalam membelanya, yang hati dan matanya dijaga hanya untuknya, yang memelihara kecantikannya yang sederhana itu sampai jauh ke masa tua, yang melahirkan anak-anaknya yang sehat, cedas dan lucu; yang akan membantu suaminya menjadi pribadi yang sukses dan berpengaruh, yang akan menjadi sahabat bagi kebahagiaan satu sama lain dalam umur yang panjang dan sehat.
Memang tidak mudah menjadi anak muda, karena kegagalannya adalah kegagalan masa depannya; dan semuda itu dia harus berhasil agar masa depannya mapan dan berwibawa.
Jiwa-jiwa muda adalah kekasih-kekasih Tuhan yang sedang dalam pembentukan.
Adik-adikku yang baik hatinya,
Bersabarlah. Sudah banyak petunjuk baik dari Tuhan, dari orang tuamu, dari para guru dan penasihat.
Patuhilah yang baik, dan hidupmu akan baik.
Aamiin
I love you all guys!

Tuesday, August 05, 2014

PERANTAU DI DUNIA

Ada seorang pengembara tiba di sebuah negeri di Timur Tengah.
Orang ini mendengar ada seorang bijaksana di negeri itu, & ingin menemuinya.
Pria bijaksana itu di kenal saleh dan baik hati, sehingga sangat dikasihi banyak orang. Untuk itu tidak sulit menemukan pria bijaksana itu.
Ketika pengembara itu bertanya dimana rumahnya, setiap orang yg di temuinya langsung menunjuk ke arah... ujung perkampungan dimana berdiri sebuah gubuk reyot. Ketika ia mengetuk pintu gubuk itu, muncul seorang pria tua yang mempersilahkan ia masuk.
Pengembara itu sangat terkejut mendapati bahwa pria bijaksana itu tinggal di gubuk reyot yag isi rumahnya hanya sebuah meja, sebuah kursi, satu kompor dan alat memasak saja.
Karena merasa tidak nyaman, pengembara itu bertanya, “Dimana perabot rumah Anda?” Orangtua tadi balik bertanya dgn lembut, “Mana milik Anda?” “Tentu saja di rumah saya. Kan saya sedang merantau, tidak mungkin saya membawa perabotanku.”
“Saya juga, Saya kan sedang merantau di dunia ini.”
Saudaraku... Apakah Anda sadar bahwa anda sebenarnya perantau di dunia ini? Rumah anda adalah di sorga, di mana YESUS KRISTUS sedang menyiapkannya bagimu. Namun banyak orang saat ini melupakan bahwa diri mereka adalah perantau sehingga yang mereka menyibukkan diri mengumpulkan harta di dunia ini.
Padahal pada akhirnya smua harta dunia itu tidak dapat mereka bawa ketika tiba saat untuk pulang ke rumah Bapa di Sorga.
"Saudara-saudaraku yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa." (1 Petrus 2:11)
Jangan Lupakan Bahwa Anda Adalah Perantau di Dunia. Gunakanlah Harta Duniawi Ini Untuk Menghasilkan Kekayaan Sorgawi !!

✪ SERAHKANLAH KEPADA TUHAN ✪
"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7)
Sahabatku yang terkasih di dalam Keluarga Kasih Kristus, ada sebuah kisah tentang enam orang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan besar. Ke enam orang ini merupakan ujung tombak terbaik dalam departemennya dan pernah mendapatkan predikat "The Best Employee" (Karyawan Terbaik) dalam perusahaan tempat mereka bekerja saat ini.
Suatu kali perusahaan mengeluarkan kebijakan baru dalam jajaran managemennya untuk melakukan pengurangan pegawai didalam setiap departemen, dikarenakan sedang pailit. Ke enam orang karyawan inipun di panggil oleh sang pimpinan, dan hasil dari pertemuan tersebut menghasilkan bahwa salah satu dari mereka harus rela berhenti bekerja karena perusahaan hanya membutuhkan lima orang profesional muda dalam departemen tersebut. Alhasil salah seorang dari mereka yang masih mempunyai anak yang kecil-kecil terpilih untuk kena PHK dan diberi waktu satu bulan untuk mempersiapkan semuanya. Rasa haru dan sedih pun melingkupi mereka seketika itu. Bagaimana mereka sudah bekerja bersama-sama selama bertahun-tahun dalam sebuah team, namun salah satu dari mereka harus berpisah.
Di saat mereka kembali ke ruang kerjanya masing-masing, seorang yang akan terkena PHK ini nampak sangat sedih sekali. Ia banyak bercerita bagaimana ia nanti menghidupi keluarganya terlebih anaknya yang masih kecil-kecil. Air mata pun berulangkali menetes dari pelupuk matanya. Bapak muda ini belum dapat menerima kenyataan pahit yang harus terjadi kepadanya. Namun Tuhan sangatlah baik dan teramat baik kepadanya, singkat cerita seorang rekan kerjanya (salah satu dari ke enam profesional muda) yang lolos dari PHK tersebut dan hanya satu-satunya seorang yang kristen Pengikut Tuhan Yesus, serta belum berkeluarga, mendatanginya, dan berkata : " Bapak tidak usah kuatir ya, biarkan nanti saya yang menghadap bapak direktur. Izinkanlah saya saja yang menggantikan bapak dan biarlah bapak tetap dapat bekerja untuk menghidupi keluarga dan anak-anak bapak. Bagaimanapun juga segenap keluarga bapak sangat mengharapkan penghasilan dari pekerjaan bapak ini ". Dan nampaklah seketika itu juga wajah dukacita dari bapak muda tersebut terganti dengan wajah sukacita. Air mata dari bapak tersebut sudah tidak terlihat lagi. Bahkan dengan perasaan gembiranya ia memeluk rekan kerjanya yang rindu berkorban baginya, sambil menjawab : " Terimakasih ya mas. Lantas kamu nanti bagaimana..?? Kamu akan kerja dimana..?? ". Sambil menepuk pundak bapak muda tersebut, pemuda inipun kembali berkata : " Bapak tidak usah terlalu memikirkan saya, saya tulus dan ihklas, lagian saya masih muda, dan saya belumlah berkeluarga. Saya masih dapat mencari pekerjaan yang lain. Yang pasti bapak tetap dapat menghidupi keluarga bapak, saya sudah sangat bersukacita ". Seketika itu juga bapak tersebut memeluk rekan kerjanya yang rindu berkorban untuknya, sambil mengucapkan terimakasih kepadanya.
"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35)
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya." (Markus 9:41)
Sahabatku, mari kita renungkan sejenak apa yang telah diperbuat sang pemuda dalam kisah diatas, bagaimana ia berkorban untuk rekan kerjanya yang lebih membutuhkan dalam hal pekerjaan. Bukankah seharusnya jikalau si pemuda tersebut egois, ia tidak akan memberikan pekerjaan kepada bapak rekan kerjanya tersebut..?? Bukankah si pemuda itu juga membutuhkan pekerjaan itu..?? Apakah pemuda tersebut tidaklah berhikmat..?? Sama sekali tidak, bahkan si pemuda itu telah memberikan contoh dan teladan akan Kasih Tuhan, sebagai satu-satunya pengikut Kristus, kepada kelima rekan kerja dalam departemennya. Pemuda tersebut sangatlah berhikmat dan menaruh Iman Percaya Penuh kepada Tuhan. Pemuda tersebut mengetahui bahwa bapak muda rekan kerjanya tersebut lebih membutuhkan pekerjaan itu untuk menghidupi keluarganya dan anak-anaknya yang masih kecil. Pemuda itu berserah penuh kepada Bapa di Sorga, bahwa Tuhan nanti pasti akan menggantinya dengan sebuah pekerjaan yang lebih baik lagi dan ia tidak akan pernah kehilangan upah-NYA. Pemuda tersebut telah menyerahkan segala kekuatirannya kepada Tuhan, bahwa DIA sanggup memelihara kehidupannya.
Bagaimana dengan saudara dan saudari hari ini..?? Apakah masih ada rasa kekuatiran dalam kehidupan saudara akan apa yang hendak dipakai, akan apa yang hendak dimakan..?? Apakah masih ada kekuatiran dalam hidup saudari saat ini untuk berbuat baik, menolong dan berbagi kasih kepada sesama..?? Janganlah kehilangan semangat untuk menjalani hidup, hanya karena kita kehilangan sesuatu hal yang berharga dalam kehidupan. Percaya dan serahkanlah semuanya tanpa terkecuali kepada Tuhan dengan kesungguhan hati dan dengan segenap hati, maka DIA akan menggantinya dengan berlipat kali ganda dalam kehidupan kita. Amin.
"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23)
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6)
SERAHKANLAH segala kuatir kita kepada Tuhan, maka kita akan senantiasa dimampukan untuk BERBAGI KASIH kepada sesama, dalam keadaan suka maupun duka.

Hidup itu di ibaratkan sebuah "KAPAL"
Landasan kapal di ibaratkan "KEPERCAYAAN"
Dayung kiri adalah "KEJUJURAN"
Dayung kanan adalah "KERJA KERAS"
Agama adalah "KOMPAS"
Layar adalah "KEKUATAN"
Tuhan adalah "PELITA"
Ombak dan Angin adalah "MASALAH"
Ikan adalah "HARTA & CINTA"   
Saat kita sedang berlayar mencari ikan...
Kita tidak dapat menghindari ombak dan angin yang keras....
Kita hanya dapat bertahan dan berjuang untuk tidak tenggelam....
Saat ombak menghantam kita.....
Gunakan layar kita, gunakan kompas untuk mengetahui di mana posisi kita....
 
Jangan biarkan landasan kapal kita bocor....
Dayung sekuat tenaga...
dan jangan lupa sebuah Pelita dapat menyelamatkan Hidup kita...
Tanpa sebuah pelita kapal kita akan Gelap dan kau tidak akan dapat melihat daratan.


GOD Bless you all forever and ever...

TIGA HARI DALAM HIDUP

Hari pertama : Hari Kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang,
lepaskan saja…

Hari kedua : Hari Esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba, dan belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…
Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup.
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan hari esok.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri.
Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik hari ini dan lakukan sekarang juga.
GOD Bless you all forever and ever...